Sabtu, 31 Agustus 2013

ORANG - ORANG SHADIQIN DALAM HAL TAJRID ( AL HIKAM BAB 2 )

AL HIKAM BAB 2


إرادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الأسباب من الشهوةالخفية وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد إنحطاط من الهمةالعلية


" Kehendakmu agar semata - mata beribadah, padahal Allah sudah menempatkan dirimu sebagai orang - orang yang harus berusaha untuk mendapatkan kehidupan duniamu sehari - hari , maka keinginan seperti itu termasuk perbuatan syahwat yang halus. Sedangkan kleinginanmu untuk berusaha, padahal Allah Taala telah menempatksn dirimu diantara golongan yang semata - mata beribadah , berarti engkau telah turun dari semangat dan cita- cita tinggi  "  

 Orang - orang shadiqin tidak meninggalkan dunia karena akhirat, dan tidak meninggalkan akhirat karena dunia. Islam menghendaki keharusan adanya hubungan timbal balik antara keduanya , dunia patut di usahakan dan di tunjang dengan akhlaq Islami yang akan menunjang semua hal yang menyangkut duniawi dan ukhrowy.

Menempatkan diri dalam tajrid, karena ingin semata - mata beribadah kepada Allah Swt , lalu melalaikan usaha ( kasab ), padahal ia masih memerlukan kasab sebagai keperluan yang wajar  secara duniawi , maka hal itu merupakan syahwat badani yang tidak pada tempatnya. Oleh karena ia masih membutuhkan seperti pada umumnya manusia berhubungan dalam hidup melalui tolong menolong yang berkaitan dengan sesama manusia.

Keinginan seperti ini memang syahwat yang halus , dan bukan perbuatan yang di larang, akan tetapi tidak pada tempatnya, apalagi kalau tajrid seperti ini adalah suatu keinginan agar di anggap sebagai manusia yang zuhud ( orang yang tidak berkehendak pada dunia, semata - mata karena Allah ), maka sudah bertentangan dengankehendak Allah sendiri, dan dapat menjerumuskan pada syirikyang halus pula.

Sebaliknya orang yang telah mendapat keputusan Allah untuk beribadah saja ( dalam maqom tajrid ) berarti ia sudah tidak mempunyai tugas duniawi yang melibatkan dirinya pada ikhtiyar duniawi, dan hanya semata - mata beribadah, karena Allah telah memilih ia untuk melakukan hal itu. Bukan berarti karena dia sudah tidak memerlukan kehidupan dunia untuk kebutuhannya yang primer, akan tetapi Allah telah menjamin dunianya dengan rezeki yang tidak di sangka - sangka. Dalam urusan dunia ia tidak terlalu berharap karena telah siap menerima anugerah dari Allah dengan jalan beribadah kepadanya semata .

Inilah jalan orang - orang Shadiqin , ia tidak serakah menghadapi hidup melewati jalan tajrid , karena menempatkan dunia sebagai hal yang tidak mengikatnya sebagai belenggu yang dapat merusak ibadahnya kapada Allah Taala. 
Ada dua hal yang perlu di ingat dalam hal ibadah , lalu Istiqomah ( teguh ) pada tempat yang di pilih untuk perjuangan hidupnya di dunia dan akhirat. Kedudukan dua hal ini sama saja tidak ada perbedaan. Karena niat yang muncul dari perbuatan seperti itu sama posisinya. yaituu sama- sama untuk beribadah.
Masalahnya sekarang adalah bagaimana seseorang menekuni perilaku ibadahnya. Di satu sisi begitu kuatnya keinginan untuk tajrid , namun keinginan duniawi tidak kalah condong mengikuti semua perbuatan sebagai ibadah juga.

Meskipun demikian ,maqom tajrid adalah maqom yang mulia karena tidak semua orang mampu berada pada maqom tersebut. Maqom tajrid ini adalah pilihan Allahh atas hamba-Nya dalam hubungan ibadah yang khusus.


Maka sebaiknya harus menekuni dua - duanya , sehingga masing - masing mampu mendapatkan nilai ibadah yang bermanfaat dunia akhirat , di antaranya :
- Taqorrub Ilallah dan mengkhususkan ibadah semata - mata karena Allah
- Tidak mengabaikan duniawi , namun melepaskan hati dari keterikatan terhadap duniawi
- Menempatkan diri dalam hidup sederhana ( qona'ah ) dan menjaga kehormatannya dalam hubungan sesama manusia
- Berusaha membersihkan jiwa dan ruh untuk mendapatkan ketenangan dan kenikmatan dalam ibadah
-Selalu bersyukur dan Tawakkal Alallah ( Menyerahkan seluruh persoalan yang telah terjadi dan yang akan terjadi kepada Allah)  



 


Sabtu, 25 Mei 2013

Di Antara Tanda Ma'rifat Adalah Tidak Bergantung Pada Amal ( AL-HIKAM BAB 1 )

AL HIKAM BAB 1

من علامات ألإعتمادعلى العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل    


" Tanda - tanda bergantung pada amal ibadah, adalah berkurangnya harapan kepada Allah ketika terjadi kekhilafan " .


Orang -orang arif  adalah orang yang teguh atas amal -amal nya , namun   ia sama sekali  tidak membanggakan apalagi menggantungkan amal ibadahnya, semua amal yang pernah ia lakukan semata - mata karena ridho Allah SWT .

Imannya kepada allah selalu menyaksikan kebenaran Nya dari atas permadani hidupnya. Ia tidak dapat memutuskan hubungan nya dengan Allah karena telah menyaksikan kebesaran Allah dari hidupnya sendiri. Amal baginya adalah suatu kewajiban seorang hamba kepada Allah Yang senantiasa ia khawatirkan . Maka ia selalu berharap atas rahmat dari Allah Swt karena ia memandang amalnya tidak patut untuk menjadi kebanggan hidupnya.

Maka ketika terjadi kesalahan dalam hidupnya ia akan sangat sedih dan sangat menghakhawatirkan kalau - kalau amalnya tidak di terima oleh Allah SWT, maka semakin besar ia mengharap akan rahmat dan kemurahan Allah SWT

Adapun orang yang membanggakan amalnya , ia telah merasa mengerjakan Shalat , sedekah, Puasa haji, dan banyak amal - amal lainnya dan berharap bahwa amal - amal tersebut dapat berbalas dengan surga sebagaimana di janjikan oleh Allah Swt , maka ia telah bergantung pada amal , ia telah menumbuhkan kesombongan akan kemampuan dirinya dalam beramal tanpa rahmat dan pertolongan Allah Swt. . Orang in telah mengesampingkan  Allah dalam Tauhidnya. Orang seperti ini sejatinya telah melibatkan dirinya dalam dosa dan kesalahan.

Ketika ia tergelincir pada sebuah kesalahan dan dosa , Maka akan terus berkurang harapannya untuk mendapatkan balasan dari amalnya. Ia akan mudah putus asa dan semakin berani berbuat dosa ketika harapannya telah sirna.

Maka lakukanlah amal - amal itu dengan ikhlas karena Allah , dan berharaplah atas rahmat Allah , balasan yang Allah janjikan semata - mata karena Anugerah , kemurahan dan kasih sayang Allah.

Pengharapan kepada Allah , harus selalu menghiasi orang - orang yang beriman yang selalu sadar akan kebutuhannya kepada Allah Swt, karena meyakini rahmat Allah itu sangat banyak dan anugerah Allah itu sangat luas. Apabila suatu ketika seorang hamba tergelincir dalam lembah maksiat, ia segera bertobat dan menemukan  jalan keluar , karena rahmat dan kecintaan Allah akan menolongnya, karena si hamba yakin kasih sayang Allah akan mendatanginya , melindungi , menolong dan menunjukkan jalan kebenaran.

Pemberian Allah berupa rahmat dan pertolongan akan di terima seorang hamba yang berlumuran dosa sadar akan kelemahan dirinya, dan yaqin kepada rahmatNya. Keyakinan seperti itu akan memberi peluang bagi manusia yang berdosa agar cepat - cepat bertaubat dan memohon ampun kepada Allah  SWT, seper i yang ia yaqini sebagai satu - satunya tempat ia bersandar.
Seorang arif menganggap  taubat adalah pertanda masih hidupnya nurani dan jiwa seseorang karena masih adanya cahaya  iman , sehingga ia tidak berputus asa dengan segala sesuatu yang terjadi padanya, sebagai kenyataan yang tidak bisa di hindari, mereka golongan Ash-habul Yamin .

Sungguh allah SWT telah menciptakan agama itu bersamaan dengan memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengamalkan. Karena dengan amal itu manusia akan berusaha melepaskan dari dosa dan kesalahan , serta akan mendapatkan tempat keutamaan diri.
Iman yang berkualitas adalah yang mampu melepaskan dirinya dari belenggu yang membelitnya melalui ujian dan cobaan. Inilah tabiat yang paling berharga, seorang mukmin sadar atas rahmat dan karunia allah yang ia terima begitu besar, namun  dosa yang begitu banyak telah membebani dan mengikat dalam hatinya , sehingga tidak dapat merasakan rahmat dan nikmat Allah yang telah banyak di terimanya.
Berpikir dengan akal sehat itu lebih utama dan lebih besar pahalanya dari pada berpikir dengan akal yang sakit karena banyaknya dosa yang menjauhkanya dari rahmat Allah. Sedangkan rahmat Allah itu lebih dekat dengan orang beriman.
Ketaatan kepada Allah bukanlah suatu amal yang di harus di pamerkan , atau sejenisnya, karena taat adalah hiasan jiwa yang bertahtakan ketulusan di dalamnya. Ketaatan tidak menjamin seseorang menuju ke surga. Karena masih memerlukan ujian yang istimewa. Karena pada dasarnya taat adalah karunia bagi hamba Allah yang sangat berharga yang harus terus menerus dijaga selama hidupnya. Setiap karunia berupa apapun, terutama jiwa yang taat merupakan hidayah dari Allah Swt.
 Yaqin bahwa Iman dan Taat adalah hidayah, maka hamba yang Ma'rifat akan selalu meningkatkan kualitas jiwanya, serta menjauhkan diri dari kedengkian , kesombongan demikian juga kebanggaan , yang hanya akan melapangkan jalan iblis menguasai ruang jiwa kita . Tentu saja hal ini sangat berbahaya.

Iman kepada Allah sebagai penangkal bagi Mu'min yang arif, adalah senjata yang paling tajam dan perisai yang paling ampuh. ketika berhadapan dengan Iblis dan kroni - kroninya.
Hanya dengan Iman tulus dan Islam yang utuh yang akan mampu memberi kekuatan dan mendapatkan kemenangan melawan pasukan iblis.

Berpegang teguh pada kepada keutamaan dan kemuliaan lebih di perlukan dari pada berpegang kepada perbuatan yang bertentangan dengan peraturan Allah, satu amal yang tercela. adapun perbuatan tercela itu datang mengunjungi kita di sebabkan jiwa kita sangat rendah dan sedikit tentang kebenaran dan kemuliaan.
Sedangkan memenuhi jiwa kita dengan ejaran - ajaran Islam adalah wajib . agar tidak ada ruang sedikitpun dalam jiwa kita untuki di masuki ajaran - ajaran iblis yang menyesatkan , Agama Islam wajib di jadikan hujjah dalam perjalanan hidup kita , agar terhindar dari perbuatan yang bebal dan bodoh.

Orang yang bangga dengan amalnya, dia akan bersandar hanya pada amalnya, dalam Syariat tentu saja tidak di perkenankan. Semua amal ibadah hanyalah disandarkan kepada Allah Swt. Karena setiap hamba yang beribadah adalah karena allah Taala belaka. Mengharap rahmat dan karunia Allah.

Berbangga kepada amal adalah syirik. Karena selain membanggakan diri dsi hadapan Allah  bahwa ia bisa beramal dan beribadah, ia pun telah mendahului Allah seakan - akan amal itu datangdari kemampuannya sendiri lalu mengandalkankan amal un tuk mencapai tujuan.

Orang - orang  Ma'rifat lebih banyak bersyukur kepada Allah, karena  bnyak kesempatan baginya untuk beramal. Dengan rahmat dan kasih sayang itulah ia mampu melaksanakan semua amal ibadahnya dalam kehidupan dunia ini.


 
Template designed by Liza Burhan